Sosialisasi Empat Pilar, Ketua Komisi I : Hoax Mengancam Kebhinekaan Kita

Sosialisasi Empat Pilar, Ketua Komisi I : Hoax Mengancam Kebhinekaan Kita

SahabatKharis.comKetua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari melakukan kegiatan sosialisasi empat pilar dalam bernegara bersama puluhan tokoh masyarakat Banjarsari, Solo. Acara tersebut digelar di Hotel Grand Setia Kawan, Solo, Selasa (22/2/2017).

“Bapak Ibu sekalian pasti sudah mengenyam pendidikan pancasila dan kebhinekaan di era Pak Harto, butir-butir Pancasila pasti pernah kita pelajari. Namun kadang harus senantiasa kita ulang karena untuk mengingatnya. Seperti penghafal Qur’an, kalu tidak di muroja’ah  juga gogrok  hafalannya,” kata Abdul Kharis.

Abdul Kharis mengatakan bahwa salah satu permasalahan empat pilar saat ini adalah adanya virus informasi sampah yang membanjiri kita sehingga membentuk pola dalam pikiran manusia. Hal tersebut menjadi salah satu pemecah kebhinekaan.

“Satu Tahun terakhir ini, otak kita dibanjiri dengan informasi kebanyakan adalah info hoax. Kalau kita punya whatsapp, setiap hari kita diguyur dengan ribuan informasi berbeda, sampai akhirnya kita bingung memilah mana info yang benar,” ujarnya.

Hoax sudah mulai merambah ke permasalahan empat pilar ini. Kadang informasi hoax tersebut sampai menjadi penyesatan-penyesatan tertentu pada masalah empat pilar.

“Misalnya, Pancasila kemarin diplesetke dan disebar sampai akhirnya oleh tentara Australia dibuat kurikulum disana. Ini yang menjadikan kita marah dan kerjasama militer kita diberhentikan sementara. Darimana orang Australia dapat plesetan Pancasila,” lanjut Kharis.

Tak hanya itu, lanjut Kharis, belum lama ini juga kedutaan Indonesia di Australian diterobos orang dan menggantikan bendera merah putih menjadi bendera bitang kejora. Ini menjadi salah satu tantangan empat pilar.

Kebhinekaan kita ini sudah mulai tercemar dengan adanya kepentingan-kepentingan yang mampu membayar informasi bagi masyarakat. Hal tersebut yang sedang melanda media mainstream akhir-akhir ini. Ini juga  menjadikan masyarakat akhirnya bergeser ke media sosial.

“Pada awal Januari 2017 lalu, ada koran nasional besar di Indonesia mengatakan Ekonomi Indonesia 2017 Membaik, koran nasional besar satunya mengatakan Ekonomi Indonesia memburuk. Lalu kita harus percaya yang mana?” kata dia.

Karenanya, pada saat melakukan diskusi dengan wartawan di DPR tentang hoax ini, kami sudah mendorong insan pers untuk berkompetisi secara independen dan profesional.

“Masyarakat Indonesia harus mendapatkan informasi dan berita yang benar,” pungkasnya.

About the Author

Leave a Reply