Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

SahabatKharis.com – Alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI yang dikuasakan kepada Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) menjadi perhatian Komisi I DPR. Alat kelengkapan parlemen yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen itu, Jumat (22/3/2017), meninjau langsung Markas Skadron 11/Serbu Penerbad, di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Para anggota Komisi I DPR datang dengan dipimpin Abdul Kharis Almasyhari selaku ketua. Didampingi Wadanpuspenerbad Brigjen TNI Eko Susetyo mereka menyaksikan kondisi helikopter-helikopter yang menjadi alutsista andalan Skadron 11/Serbu Penerbad.

Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

Kunjungan tersebut untuk mengetahui tentang kondisi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki Penerbad, termasuk soal perawatannya. Menurut rencana Penerbad akan menerima delapan unit helikopter jenis Apache sebagai pelengkap alutsista Skadron 11/Serbu Penerbad.

Sumber : Solopos

 

Alumni UNS Ini Masih Sering Kangen Kantin Mbok Jum

Alumni UNS Ini Masih Sering Kangen Kantin Mbok Jum

SahabatKharis.com – Setiap alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) memiliki memori tersendiri dengan kampusnya. Bagi Abdul Kharis Almasyhari, kantin ‘Mbok Jum’ menjadi hal pertama yang paling diingatnya.

“Tempat yang paling mengenang di UNS itu Mbok Jum. Makan murah dapetnya banyak. Mahasiswa banget,” ucap Kharis kepada Jawa Pos Radar Solo sembari berkelakar.

Ya, kantin yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ini memang melegenda. Terlebih bagi mahasiswa berkantong mini namun doyan makan berlebih. Namun bagi Kharis, menikmati makanan di Mbok Jum merupakan cara sederhana untuk merayakan kesederhanaan. Apakah dia tidak punya cukup uang untuk makan di restoran?

“Saya sejak semester tiga sudah punya usaha yang saya rintis dari nol. Bisnis percetakan sampai bisa hidup tanpa uang saku dari orang tua. Biaya hidup zaman dulu Rp 50.000 per bulan. Saya usaha bisa mendapatkan minimal Rp 250.000 per bulan,” katanya.

Kharis memang masuk kategori mahasiswa yang tak bisa diam. Kuliah, aktif organisasi dan merintis bisnis menjadi aktivitas sehari-harinya. Ia mampu mengatur waktu jika ketiganya memiliki jadwal yang berdekatan atau bahkan satu waktu. Tak pernah keteteran dan selalu mendapatkan hasil maksimal. Mungkin tidak akan ditemukan mahasiswa saat ini yang memiliki mental sama seperti Kharis.

“Mahasiswa sekarang gregetnya agak kurang. Mereka tidak sesemangat zaman dulu, terlalu fokus studi melupakan aktivitas di lapangan. Hasilnya mahasiswa sekarang jika dihadapkan persoalan di lapangan akan menyerah, minimal mengeluh. Kalau dulu saya multitasking,” jabarnya.

Saking multitasking-nya, pria yang kini menjadi Ketua Komisi I DPR RI ini memiliki cerita tak terlupakan saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).  Hidup di kampung orang selama dua bulan cukup menguras energi, pikiran serta keuangan. Namun tidak bagi Kharis, ia bahkan mampu mendapatkan keuntungan finansial tanpa harus mengeluarkan uang. Dengan insting bisnisnya, dirinya membuka stand baazar untuk masyarakat sekitar. Hasilnya tak main-main. “Saya sampai untung empat ekor kambing saat itu. Kambingnya saya bagikan ke masyarakat untuk dimasak. Kita makan-makan bareng,” katanya.

Terbit di Harian Jawapos : Kiprah Alumni UNS: Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I DPR RI

Aktif Berorganisasi Saat Kuliah Jadi Bekal Terjun di Dunia Politik

Aktif Berorganisasi Saat Kuliah Jadi Bekal Terjun di Dunia Politik

SahabatKharis.com – Lahir dari pasangan KH. Syaibani dan Muslimah, seorang Kyai pemilik pondok pesantren di Purworejo, Jawa Tengah menjadikan kepribadian Abdul Kharis Almasyhari sejuk dan mendamaikan. Iklim itu juga yang saat ini ia bawa ke kancah perpolitikan nasional.

Sejak TK hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) anak pertama dari lima bersaudara ini selalu menjadi siswa terbaik dan juara di kelas. Bahkan saat SD ia sempat menjadi siswa teladan ke-empat se-Kabupaten Purworejo. Di SMA ia mulai aktif berorganisasi, baik organisasi kesiswaan di sekolah maupun organisasi remaja mesjid. Di antaranya pernah menjadi Ketua Takmir Masjid, sekaligus menjadi pengkotbah di Masjid SMAN I Kutoarjo.

Selepas SMA tahun 1987, Kharis diterima di Fakultas Ilmu Ekonomi (sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis), jurusan Akutansi  di Universitas  Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di semester kedua kuliahnya ia mulai mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan di kampusnya. Tidak kurang empat kegiatan kemahasiswaan yang diikuti. Yakni Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam- red), Beladiri Merpati putih, BPPI (Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam) serta Badan Pers Mahasiswa  (Bapema). Sejak itulah ia mulai berkenalan dengan dunia pers, penerbitan dan percetakan.

Ketika ada tawaran dari Bapema untuk mengikuti pelatihan di Jakarta tepatnya di Majalah Tempo, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Apalagi saat itu jumlah mahasiswa yang boleh mengikuti pelatihan itu sangat terbatas, yakni hanya tiga mahasiswa untuk satu kampus. Siapa sangka jika pelajaran dalam pelatihan jurnalistik di Tempo yang hanya beberapa hari itu begitu membuat Kharis tertarik.  “Saat itu juga muncul ide untuk mendirikan usaha percetakan di sekitar kampus. Di semester dua itulah saya mulai merintis bisnis percetakan,” katanya.

Setelah berhasil meraih gelar akuntan, Kharis kemudian mendirikan CV Citra Islami Press pada tahun 1993 dan menjadi Direktur Utamanya. Empat tahun kemudian ia mendirikan PT Era Adicitra Intermedia yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan buku-buku Islami dan menjabat sebagai Direktur Utama . Pada tahun 1995, ia dipercaya menjadi dosen tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan sebagai pengusaha di bidang percetakan dan penerbitan, ia pun aktif dalam kepengurusan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sejak tahun 1997. Bahkan di tahun 2007, Kharis menjabat sebagai Ketua IKAPI Provinsi Jawa Tengah, baru pada tahun 2013 ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengurus IKAPI Pusat. “Beberapa kali saya juga kerjasama dengan Jawa Pos,” imbuhnya.

Pada tahun 2013, Kharis merasa bisnis penerbitannya sudah tergolong mapan. Ia pun mencoba mendaftarkan diri menjadi calon anggota legislatif (caleg). Hal tersebut menjadi konsekuensi bagi karirnya, ia harus mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen tetap UMS. Di tahun 2014, Kharis mulai bertarung di kancah politik. Dia berhasil merebut suara yang cukup tinggi di daerah pemilihannya, Dapil Jawa Tengah V yang meliputi wilayah Surakarta, Sukoharjo, Boyolali dan Klaten dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bersama 559 anggota DPR RI lainnya, Kharis pun resmi menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019. Bahkan kini dia dipercaya menjadi Ketua Komisi I DPR RI.

Peraih program doktor di bidang akuntansi UNS ini mengaku belajar politik sejak masih di kampus UNS. Bersama kawan-kawannya di Masjid Nurul Huda, Kharis mendiskusikan berbagai persoalan bangsa dan berusaha mencari solusinya. Meski setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang suatu hal, namun mereka mampu menahan diri agar kondisinya tetap sejuk dan damai.

“Teman-teman saya juga banyak yang terjun di politik, tidak hanya di PKS. Ada yang bergabung PKB, PPP, PAN, PBB. Tetapi kita tetap berteman dengan baik. Tetapi sampai saat ini saya belum bisa mewujudkan cita-cita politik saya yaitu menjadikan bangsa ini makmur, adil dan sejahtera,” pungkasnya.

Terbit di Harian Jawapos : Kiprah Alumni UNS: Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I DPR RI

Presiden PKS Sodorkan 3 Nama Untuk Pilgub Jateng, Abdul Kharis Salah Satunya

Presiden PKS Sodorkan 3 Nama Untuk Pilgub Jateng, Abdul Kharis Salah Satunya

SahabatKharis.comMeski baru akan digelar pada tahun 2018, peta politik di Jawa Tengah terus menghangat. Terbaru, sepekan usai menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil), Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyodorkan tiga nama kader internalnya di Pemilihan Gubernur Jateng 2018.

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman Ph.D dalam keterangannya di sela agenda Sekolah Kepemimpinan Partai (SKP) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS, Sabtu (25/3/2017) di Ungaran, Jateng mengatakan pihaknya memprioritaskan tiga kader internal untuk ikut berkompetisi dan memenangkan Pilgub Jateng 2018 mendatang, baik sebagai calon gubernur maupun calon wakil gubernur.

“Ada Ketua Komisi I DPR RI Dr Abdul Kharis Al Masyhari, Wakil Ketua Komisi  X DPR RI Drs Abdul Fikri Faqih, MM dan juga ada Wakil Ketua DPRD Jateng Ahmadi SE, kami minta untuk  membangun komunikasi dengan para calon, namun tidak menutup adanya calon lain,”ujarnya.

Secara umum, Sohibul Iman mengatakan bahwa tahapan Pilgub Jateng akan terus diikuti, dan dirinya berharap seluruh kader-kader PKS juga untuk siap menjadi pemimpin di daerahnya masing – masing.

Dikatakan mantan Rektor Universitas Paramadina ini, menjadi kepala daerah merupakan salah satu bentuk pelayanan konkrit yang diberikan PKS untuk masyarakat.

“Kalau kader PKS bisa menjadi seorang kepala daerah, maka pelayanan untuk masyarakat menjadi sesuatu hal yang mungkin. Sudah banyak yang membuktikan, teman – teman kader yang menjadi kepala daerah memiliki prestasi,”jelasnya.

Dia mengatakan bahwa jika kader yang menjadi kepala daerah maka pintu pengabdian untuk masyarakat terbuka lebih lebar. Oleh karena itu Ia mengajak kader PKS untuk siap menjadi pemimpin di daerah.

Saat ini, ada tiga kader internal PKS yang menjadi Kepala Daerah di Jateng, yakni Muhammad Haris (Wakil Wali Kota Salatiga), Dedy Endriyatno (Wakil Bupati Sragen) dan juga Rohadi Widodo (Wakil Bupati Karanganyar).

Sebagai informasi, tahapan pilgub akan dimulai pada Agustus/September 2017. Pencoblosan dilakukan pada Juni 2018, berbarengan dengan pilkada di tujuh kabupaten/kota, yakni Karanganyar, Temanggung, Banyumas, Kudus, Kabupaten Magelang, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal.

Sesuai UU Nomor 10 Tahun 2016 sebagai Perubahan Kedua atas UU Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur/Bupati/ Wali Kota, aturan main pilgub sama dengan Pilkada 2017. Pasangan calon dapat diusung oleh parpol yang memiliki 20 persen kursi di DPRD Jateng atau meraup suara 25% suara sah Pileg DPRD Jateng 2014.

Sumber : PKS Jateng

Pilih Dewas LPP TVRI, Komisi I Akan Himpun Masukan Masyarakat

Pilih Dewas LPP TVRI, Komisi I Akan Himpun Masukan Masyarakat

SahabatKharis.com – Komisi I DPR RI dalam waktu dekat akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap sebelas nama yang diusulkan Presiden untuk dipilih menjadi Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) periode 2017-2021. Namun, sebelumnya Komisi I akan terlebih dahulu menghimpun masukan masyarakat terhadap para calon tersebut agar hasilnya sesuai yang dikehendaki oleh masyarakat.

Ketua Komisi I Abdul Kharis Almashyari mengatakan, saat ini sedang dalam proses pengumuman di surat kabar agar mendapat masukan dari masyarakat luas. “Sudah, akan segera di proses. Sekarang sedang proses pengumuman di surat kabar agar mendapat masukan dari masyarakat luas,” tutur Abdul Kharis saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta pada Rabu, (22/03/2017).

Uji kelayakan dan kepatutan Dewas LPP TVRI ini diperkirakan akan berlangsung pada minggu kedua pada bulan April, untuk sementara menunggu selesainya masukan dari masyarakat.  “fit and proper test sekitar minggu kedua bulan april. Tanggalnya masih nunggu selesainya masukan dari masyarakat,” jelasnya.

Sebagai televisi yang dimiliki olen negara, LPP TVRI memiliki tantangan yang cukup besar di tengah persaingan televisi swasta. Oleh karenanya, masukan dari masyarakat akan menjadi pertimbangan penting bagi Komisi I dalam memilih enam calon dari sebelas nama yang diajukan Presiden. Partisipasi  masyarakat dalam memberi masukan ke Komisi I diharapkan akan membawa LPP TVRI menjadi lebih baik.

Adapun sebelas nama calon Dewas LPP TVRI yang akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I adalah Adam Bachtiar, Antar MT Sianturi, Arief Hidayat Thamrin, Dudi Hendrakusuma Syahlani, Eddy Kurnia, Edi Winarto, Made Ayu Dwie Mahenny, Maryuni Kabul Budiono, Pamungkas Trishadiatmoko, Supra Wimbarti dan Yazirwan Uyun.

 

PKS Usulkan Pengoptimalan Zakat Sebagai Pengurang Beban Pajak

PKS Usulkan Pengoptimalan Zakat Sebagai Pengurang Beban Pajak

SahabatKharis.com – Berbagai terobosan terus dilakukan guna mengoptimalkan potensi zakat dari masyarakat. Di Jawa Tengah, zakat digagas sebagai salah satu cara untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayarkan oleh wajib pajak (umat Islam).

Anggota DPR RI Abdul Kharis Al Masyhari mengatakan, contoh konsep zakat pengurang pajak ini telah dilakukan di Malaysia. Pada 1978, Pemerintah Malaysia mengesahkan aturan setiap pembayaran zakat individu dapat menjadi pengurang pajak.

Pada 1990, zakat pengurang pajak mulai diberikan kepada perusahaan yang membayar zakat dengan potongan sangat kecil. Jika pembayaran zakat individu dapat menjadi pemotongan pajak 100 persen, pada 2005 Pemerintah Malaysia telah mengeluarkan keputusan menerima zakat perusahaan menjadi pengurang pajak hanya sebesar 25 persen.

Hingga saat ini, Pemerintah Malaysia masih belum menerima usulan agar zakat perusahaan dapat mengurangi pajak 100 persen. Dengan adanya zakat sebagai pengurang pajak, bisa meningkatkan kesadaran berzakat umat Islam di Malaysia.

“Sementara cara pembayaran zakat yang paling banyak dilakukan oleh muzakki di Malaysia adalah melalui pemotongan secara langsung gaji para pegawai pemerintah atau karyawan perusahaan swasta,” ujarnya di sela-sela acara Rakorwil PKS Jawa Tengah..

Sebelumnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah pernah mengusulkan melalui Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, dalam rangka mengoptimalkan zakat dari umat Islam.

“Saat itu, Komisi E pernah menggunakan hak inisitaif untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang zakat ini,” kata Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Tengah KH Kamal Fauzi, Senin (20/3).

Dengan adanya Perda zakat, diharapkan zakat bisa dikelola secara profesional dan sesuai dengan syariah. Termasuk ke depan, zakat bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi pajak yang dibayar oleh masyarakat.

Secara rinci, PKS sendiri sebenarnya berharap zakat bisa menjadi sarana untuk mengurangi pajak. Jika bisa terealisasi tentu meringankan beban masyarakat, khususnya umat Islam.

“Karena kewajiban membayar zakat dapat mengurangi besaran beban pajak yang harus dibayar oleh seorang Muslim sebagai warga negara Indonesia (WNI) yang taat pajak,” ujarnya.

Contohnya, ketentuan zakat yang menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Jadi, jika membayar zakat itu -secara otomatis— akan mengurangi jumlah kewajiban pajak yang dibayarkan.

Pada akhirnya, masyarakat akan memiliki kemauan untuk mengeluarkan zakat guna mengurangi beban pajak. Dengan begitu maka perolehan zakat dari masyarakat juga akan semakin besar.

Kamal mengungkapkan, jika zakat itu benar-benar mengurangi pajak, banyak yang membayar zakatnya di lembaga zakat yang telah direkomendasikan oleh pemerintah. Hanya saja, pertanggungjawaban pengelolaan zakat oleh lembaga yang bakal menangani harus benar-benar transparan dan masyarakat bisa melakukan kontrol langsung.

“Untuk itu, jika raperda zakat nantinya bisa disahkan menjadi Perda, maka akan dibentuk dua lembaga yang akan menangani masalah zakat, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) selaku lembaga pengawas dan lembaga amil zakat (LAZ) selaku pelaksana,” ujarnya.

Sumber : Republika

Galeri Bersepeda : SRBC Nggowes Solo – Pantai Baron Jogja

Galeri Bersepeda : SRBC Nggowes Solo – Pantai Baron Jogja

SahabatKharis.com – Solo Road Bike Community atau SRBC kembali melakukan olahraga gowes Sabtu (18/3) kemarin. Kali ini rute yang diambil adalah dari Solo ke Pantai Baron, Yogyakarta. Kurang lebih 103 kilometer dilalui dalam kegiatan tersebut.

Berikut foto-fotonya :

Persiapan sebelum Gowes Solo - Baron di Depan Kantor Era Intermedia

Persiapan sebelum Gowes Solo – Baron di Depan Kantor Era Intermedia (18/3)

Sampai Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta

Sampai Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta

Berpose bersama anggota SRBC di Gunung kidul, Yogyakarta

Berpose bersama anggota SRBC di Gunung kidul, Yogyakarta

Beristirahat sejenak di tengah perjalanan

Beristirahat sejenak di tengah perjalanan

Samapi di Pantai Baron, Yogyakarta

Samapi di Pantai Baron, Yogyakarta

Finish, Pantai Baron, Yogyakarta

Finish, Pantai Baron, Yogyakarta

Umat Islam Adalah Benteng NKRI Dari Penjajahan Sejak Dulu

Umat Islam Adalah Benteng NKRI Dari Penjajahan Sejak Dulu

SahabatKharis.com – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Solo menyelenggarakan Kajian Purnama (Kapur) yang digelar di halaman kantor DPC PKS Pasar Kliwon, Ahad (12/3). Acara yang bertemakan Peran Umat Islam dalam Menjaga NKRI itu mendatangkan narasumber Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari dan pemerhati sejarah Islam di Nusantara, Rahmat Abdullah.

“Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam sejarah penjajah datang ke Indonesia selain membawa misi meraup kekayaan dan kejayaan untuk negaranya, namun mereka juga membawa misi agama juga yang kita kenal dengan Gold, Glory, Gospel. Dan itu bukan Islam, kedatangan Islam menyejahterakan,” katanya.

Maka kalau ditanya siapa yang menjaga terwujudnya NKRI, ya umat Islam itu. Indonesia jika tidak ada peran umat Islam dalam menjaganya, pasti sudah runtuh

Kharis mengatakan, tentara jika mau berangkat perang pasti mendekatkan diri kepada Tuhannya.

“Kalau tentara itu umat Islam dan dekat dengan Allah, yakin bahwa kematiannya membela agama adalah syahid, maka mental tentara tersebut akan semakin kuat,” ungkapnya.

Namun, lanjut Kharis, ancaman terbesar sering tidak disadari adalah ancaman distorsi informasi. Misal kita mendengar seluruh terduga teroris mempunyai jenggot. Maka persepsi yang ada dalam benak masyarakat, berjenggot mempunyai potensi menjadi teroris.

“Ini lebih berbahaya dari perang gerilya. Tentara kita adalah salah satu yang terbaik jika perang gerilya. Namun jika ancaman distorsi informasi, hal ini sulit dicegah karena ancaman ini bahkan dibawa masuk ke rumah kita,” ujarnya.

Sementara itu, Rahmat Abdullah menyampaikan mengenai sejarah kerajaan Islam yang pernah berjaya di Indonesia. Menurutnya, adanya kerajaan Islam tersebut menjadi benteng nusantara dalam melawan penjajahan asing.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga disuguhi dengan susu segar dan camilan khas Pasar Kliwon.

 

Komisi I DPR RI Serius Sejahterakan TNI

Komisi I DPR RI Serius Sejahterakan TNI

SahabatKharis.com – Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) saat ini sedang berusaha keras mensejahterakan para Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang kehidupannya kini jauh dari kata ‘sejahtera’. Sebagaimana yang terkandung dalam Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia pada pasa 2 ayat d, bahwa tentara profesional adalah tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi dengan baik, tidak berpolitik, tidak berbisnis dan dijamin kesejahteraannya.

Namun pada kenyataannya, sikap profesional TNI dalam bekerja belum dibarengi dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Oleh karena hal itu, kini Komisi I DPR RI telah membentuk Pantia Kerja (Panja) Kesejahteraan Prajurit untuk mewujudkan hal tersebut.

Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menegaskan, jika sejatinya kesejahteraan TNI harus segera diwujudkan. Bagaimana pun, TNI adalah ujung tombak pertahanan serta keamanan bagi Indonesia.

“Prajurit kita itu adalah pasukan yang siap bergerak dan bertugas 24 jam, tanpa henti. Mau tak mau, mereka harus sehat. Maka dari itu, kita harus dukung kesejahteraannya. Baik dari segi sarana maupun prasarana,” ucap Kharis, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, kemarin.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengaku ‘miris’ melihat tunjangan maupun gaji para TNI yang dianggap kurang sepadan dengan sikap profesionalitasnya dalam bekerja. Tak hanya itu, kata Kharis, rumah sakit TNI pun diseluruh daerah di Indonesia sangat minim.

“Belum lama ini kita melakukan kunjungan ke salah satu rumah sakit TNI di Surabaya, kita tercengang melihatnya. Penanganannya kurang bagus, peralatannya pas-pas’an mungkin juga kurang lengkap. Dan yang lebih miris lagi adalah, bangunannya yang sudah amat tua,” cerita Kharis.

Dalam harapannya ke depan, anggota dewan asal Dapil Jawa Tengah ini mengaku ingin berusaha keras agar para TNI bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang jauh lebih baik.

“Bayangkan saja, di dalam satu rumah sakit hanya ada dua dokter spesialis. Bahkan hanya ada satu dokter spesialis. Lantas bagaimana, di daerah yang justru banyak tentara tetapi tak ada rumah sakitnya? Ya semoga usaha kita bisa tercapai dengan baik,” tegas nya.

Lebih lanjut, kata Kharis, Panja Kejesahteraan Prajurit nantinya akan membicarakan serius persoalan ini kepada pihak pemerintahan terkait.

“Semoga bisa segera terealisasi. Kini kita akan ingin merekomendasi kepada pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) agar rumah sakit yang ada di lingkungan tentara ini agar mendapat perhatian yang lebih,” tandas mantan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Panja Kesejahteraan Prajurit, Mayjen TNI (Purn) Asril Hamzah Tanjung SIP. Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra ini menegaskan, kalau tim panja yang di ketuainya itu sudah melakukan kunjungan ke beberapa rumah sakit TNI di daerah.

“Pihak kami sudah melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Dustira di Bandung. Lalu ke Rumah Sakit AU (Angkatan Udara) di Makassar. Rumah Sakit Dokter Ramlan di Surabaya. Rumah Sakit Karjito di Kalimantan Timur,” ucap Asril saat dihubungi, kemarin.

Mantan Kepala Staf Kostrad (Kaskostrad) TNI-AD ini mengaku, ingin lebih memfokuskan diri untuk kesejahteraan TNI dari segi materil.

“Pastinya yang kita utamakan terlebih dahulu adalah untuk mensejahterakan TNI dan keluarganya. Karena jika sudah sejahtera keseluruhan, kinerja TNI akan bisa lebih maksimal,” tegas Asril.

Lebih lanjut kata Asril, kedepannya Panja Kesejahteraan Prajurit sendiri akan melaporkan kerjannya kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu.

“Akan kita sampaikan kepada pihak terkait. Dan kita harapkan bisa segera bisa terealisasi dengan baik,” tambah Asril.