Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

SahabatKharis.com – Alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI yang dikuasakan kepada Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) menjadi perhatian Komisi I DPR. Alat kelengkapan parlemen yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen itu, Jumat (22/3/2017), meninjau langsung Markas Skadron 11/Serbu Penerbad, di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Para anggota Komisi I DPR datang dengan dipimpin Abdul Kharis Almasyhari selaku ketua. Didampingi Wadanpuspenerbad Brigjen TNI Eko Susetyo mereka menyaksikan kondisi helikopter-helikopter yang menjadi alutsista andalan Skadron 11/Serbu Penerbad.

Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

Komisi I DPR RI Tinjau Helikopter Apache di Markas Skadron 11/Serbu Penerbad Semarang

Kunjungan tersebut untuk mengetahui tentang kondisi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki Penerbad, termasuk soal perawatannya. Menurut rencana Penerbad akan menerima delapan unit helikopter jenis Apache sebagai pelengkap alutsista Skadron 11/Serbu Penerbad.

Sumber : Solopos

 

Alumni UNS Ini Masih Sering Kangen Kantin Mbok Jum

Alumni UNS Ini Masih Sering Kangen Kantin Mbok Jum

SahabatKharis.com – Setiap alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) memiliki memori tersendiri dengan kampusnya. Bagi Abdul Kharis Almasyhari, kantin ‘Mbok Jum’ menjadi hal pertama yang paling diingatnya.

“Tempat yang paling mengenang di UNS itu Mbok Jum. Makan murah dapetnya banyak. Mahasiswa banget,” ucap Kharis kepada Jawa Pos Radar Solo sembari berkelakar.

Ya, kantin yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ini memang melegenda. Terlebih bagi mahasiswa berkantong mini namun doyan makan berlebih. Namun bagi Kharis, menikmati makanan di Mbok Jum merupakan cara sederhana untuk merayakan kesederhanaan. Apakah dia tidak punya cukup uang untuk makan di restoran?

“Saya sejak semester tiga sudah punya usaha yang saya rintis dari nol. Bisnis percetakan sampai bisa hidup tanpa uang saku dari orang tua. Biaya hidup zaman dulu Rp 50.000 per bulan. Saya usaha bisa mendapatkan minimal Rp 250.000 per bulan,” katanya.

Kharis memang masuk kategori mahasiswa yang tak bisa diam. Kuliah, aktif organisasi dan merintis bisnis menjadi aktivitas sehari-harinya. Ia mampu mengatur waktu jika ketiganya memiliki jadwal yang berdekatan atau bahkan satu waktu. Tak pernah keteteran dan selalu mendapatkan hasil maksimal. Mungkin tidak akan ditemukan mahasiswa saat ini yang memiliki mental sama seperti Kharis.

“Mahasiswa sekarang gregetnya agak kurang. Mereka tidak sesemangat zaman dulu, terlalu fokus studi melupakan aktivitas di lapangan. Hasilnya mahasiswa sekarang jika dihadapkan persoalan di lapangan akan menyerah, minimal mengeluh. Kalau dulu saya multitasking,” jabarnya.

Saking multitasking-nya, pria yang kini menjadi Ketua Komisi I DPR RI ini memiliki cerita tak terlupakan saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).  Hidup di kampung orang selama dua bulan cukup menguras energi, pikiran serta keuangan. Namun tidak bagi Kharis, ia bahkan mampu mendapatkan keuntungan finansial tanpa harus mengeluarkan uang. Dengan insting bisnisnya, dirinya membuka stand baazar untuk masyarakat sekitar. Hasilnya tak main-main. “Saya sampai untung empat ekor kambing saat itu. Kambingnya saya bagikan ke masyarakat untuk dimasak. Kita makan-makan bareng,” katanya.

Terbit di Harian Jawapos : Kiprah Alumni UNS: Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I DPR RI

Aktif Berorganisasi Saat Kuliah Jadi Bekal Terjun di Dunia Politik

Aktif Berorganisasi Saat Kuliah Jadi Bekal Terjun di Dunia Politik

SahabatKharis.com – Lahir dari pasangan KH. Syaibani dan Muslimah, seorang Kyai pemilik pondok pesantren di Purworejo, Jawa Tengah menjadikan kepribadian Abdul Kharis Almasyhari sejuk dan mendamaikan. Iklim itu juga yang saat ini ia bawa ke kancah perpolitikan nasional.

Sejak TK hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) anak pertama dari lima bersaudara ini selalu menjadi siswa terbaik dan juara di kelas. Bahkan saat SD ia sempat menjadi siswa teladan ke-empat se-Kabupaten Purworejo. Di SMA ia mulai aktif berorganisasi, baik organisasi kesiswaan di sekolah maupun organisasi remaja mesjid. Di antaranya pernah menjadi Ketua Takmir Masjid, sekaligus menjadi pengkotbah di Masjid SMAN I Kutoarjo.

Selepas SMA tahun 1987, Kharis diterima di Fakultas Ilmu Ekonomi (sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis), jurusan Akutansi  di Universitas  Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di semester kedua kuliahnya ia mulai mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan di kampusnya. Tidak kurang empat kegiatan kemahasiswaan yang diikuti. Yakni Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam- red), Beladiri Merpati putih, BPPI (Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam) serta Badan Pers Mahasiswa  (Bapema). Sejak itulah ia mulai berkenalan dengan dunia pers, penerbitan dan percetakan.

Ketika ada tawaran dari Bapema untuk mengikuti pelatihan di Jakarta tepatnya di Majalah Tempo, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Apalagi saat itu jumlah mahasiswa yang boleh mengikuti pelatihan itu sangat terbatas, yakni hanya tiga mahasiswa untuk satu kampus. Siapa sangka jika pelajaran dalam pelatihan jurnalistik di Tempo yang hanya beberapa hari itu begitu membuat Kharis tertarik.  “Saat itu juga muncul ide untuk mendirikan usaha percetakan di sekitar kampus. Di semester dua itulah saya mulai merintis bisnis percetakan,” katanya.

Setelah berhasil meraih gelar akuntan, Kharis kemudian mendirikan CV Citra Islami Press pada tahun 1993 dan menjadi Direktur Utamanya. Empat tahun kemudian ia mendirikan PT Era Adicitra Intermedia yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan buku-buku Islami dan menjabat sebagai Direktur Utama . Pada tahun 1995, ia dipercaya menjadi dosen tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan sebagai pengusaha di bidang percetakan dan penerbitan, ia pun aktif dalam kepengurusan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sejak tahun 1997. Bahkan di tahun 2007, Kharis menjabat sebagai Ketua IKAPI Provinsi Jawa Tengah, baru pada tahun 2013 ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengurus IKAPI Pusat. “Beberapa kali saya juga kerjasama dengan Jawa Pos,” imbuhnya.

Pada tahun 2013, Kharis merasa bisnis penerbitannya sudah tergolong mapan. Ia pun mencoba mendaftarkan diri menjadi calon anggota legislatif (caleg). Hal tersebut menjadi konsekuensi bagi karirnya, ia harus mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen tetap UMS. Di tahun 2014, Kharis mulai bertarung di kancah politik. Dia berhasil merebut suara yang cukup tinggi di daerah pemilihannya, Dapil Jawa Tengah V yang meliputi wilayah Surakarta, Sukoharjo, Boyolali dan Klaten dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bersama 559 anggota DPR RI lainnya, Kharis pun resmi menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019. Bahkan kini dia dipercaya menjadi Ketua Komisi I DPR RI.

Peraih program doktor di bidang akuntansi UNS ini mengaku belajar politik sejak masih di kampus UNS. Bersama kawan-kawannya di Masjid Nurul Huda, Kharis mendiskusikan berbagai persoalan bangsa dan berusaha mencari solusinya. Meski setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang suatu hal, namun mereka mampu menahan diri agar kondisinya tetap sejuk dan damai.

“Teman-teman saya juga banyak yang terjun di politik, tidak hanya di PKS. Ada yang bergabung PKB, PPP, PAN, PBB. Tetapi kita tetap berteman dengan baik. Tetapi sampai saat ini saya belum bisa mewujudkan cita-cita politik saya yaitu menjadikan bangsa ini makmur, adil dan sejahtera,” pungkasnya.

Terbit di Harian Jawapos : Kiprah Alumni UNS: Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I DPR RI