KHUTBAH IEDUL FITHRI : IEDUL FITHRI 1438 HIJRIYAH SEBAGAI MOMENTUM KEBANGKITAN UKHUWAH ISLAMIYAH

KHUTBAH IEDUL FITHRI : IEDUL FITHRI 1438 HIJRIYAH SEBAGAI MOMENTUM KEBANGKITAN UKHUWAH ISLAMIYAH

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله ُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (۳ x )
الله ُأَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُللهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً.

الحَمْدُللهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلىَ الَّذِى جَعَلَ مُحَمَّدً اِمَامًا لَّنَا وَلِسَائِرِ البَشَر. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ لِيَنْفِذَهُمْ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَيُنَجِّيهِمْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة.

أَمَّا بَعْدُ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ القَائِلِيْنَ.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم:

{يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ}

Assalamu’alaikum wa romatullahi wa barokatuh
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar (3X)
Allahu akbar kabiro, wal hamdulillahi katsiro, wa subhanallahu bukrotaw-wa ashila

Alhamdullahi katsiran kama amar, nahmaduhu subhanahu wa ta’ala, ‘alal ladzi ja’ala Muhammadan imaman lana, wa li saa-iril basyar.

Asyhadu alla ilaha illa-Allahu wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluhu al-mab’utsu lin-nas, liyanfidahum min kaidis-syaithon wa yunajjihim min ‘adzabin-naar

Allahumma sholli wa sallim ‘ala Muhammadin,
wa ‘ala alihi adthaar wa ‘ashabihi akhyaar, wa man tab’iahu bi ihsani ila yaumil qiyamah.
Amma ba’du, ushikum bi taqwa-Allohi faqod faazal muttaqun.

Qola-Allohu ta’ala fil Quran-il kariem, wa huwa ashdaqul qoilin, a’udzubillahi min-as syaithonir-rajim bismillahi-rahmanirrahim: (Ya ayyuhal-ladzina aamanu kutiba ‘alaikumus-syiamu kama kutiba ‘alal-ladzina mink-qoblikum la’allakum tattaqun)

الله ُاَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Ma’asiral muslimin Rahimakumullah, Jamaah salat idul fitri yang berbahagia…

Lantunan pujian dan syukur kita ucapkan ke hadirat Allah SWT, karena pada hari yang suci ini, kita masih diberikan nikmat keimanan juga kesehatan oleh Allah. Nikmat yang merupakan bukti bahwa Allah tiada pernah mengabaikan kita sebagai makhluk ciptaanNya. Setiap nafas yang kita hirup, darah yang mengalir di urat nadi, hingga Jantung yang yang memompanya tanpa henti, Semuanya itu tidak luput dari perhatian dan kasih sayang Allah SWT.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Wa in ta’uddu ni’mata-Allahi laa tuhshuha, inna-Alloha laghofurur rahiim

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Salawat beserta Salam tidak henti-hentinya kita bermohon kepada Allah agar disampaikan kepada Baginda kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, Sahabat-sahabat beliau, para pengikutnya hingga akhir zaman.

الله ُاَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Ma’asiral muslimin Rahimakumullah

Kebersamaan Idul Fitri
Gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang diseluruh pelosok negeri bahkan di belahan jagad raya alam semesta ini, bersatu padu dalam irama membesarkan Allah, memuji dan mensucikan-Nya, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat telah Allah anugerahkan, terutama dapat meraih kemenangan di hari yang fitri ini. Mengungkapkan syukur atas hidayah dan inayah Allah yang begitu besar karena telah berhasil mengikuti rentetan ibadah pada bulan Ramadhan sebagai jaminan untuk mendapatkan ganjaran dan ampunan.

Tidak ada beda antara yang berasal dari Asia, Arab atau Eropa, tidak pula dibedakan oleh warna kulitnya. Umat Islam seluruh dunia bertakbir, tahmid dan tahlil dengan kalimat yang sama, kebahagiaan yang sama. Seluruhnya itu adalah gambaran tentang kebersamaan dan persaudaraan umat Islam (Ukhuwah Islamiyah).

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan perintah Rasulullah SAW secara khusus di Hari raya idul fitri dan adha untuk membawa seluruh keluarga untuk hadir, termasuk seluruh kerabat dan anak-anak, termasuk yang sedang haid sekalipun, meskipun tidak mengikuti shalat.

اَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ نُخْرِجَهُنَّ فيِ اْلفِطْرِ وَ اْلاَضْحَى اْلعَوَاطِقَ وَ اْلحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ اْلخُدُوْرِ، فَاَمَّا اْلحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ

Amaro Rasulollah SAW an-nuhkrijahunna fil-fitr wa-adha al-‘awatiq wal haidha wa dzawatil khudur. Fa-ammal haidh fay’atazillanas-sholah

“Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk membawa keluar anak-anak, perempuan-perempuan haidl dan anak-anak perempuan yang masih gadis, pada Hari Raya Idul Fitri dan idul Adha. Adapun wanita-wanita yang haidl itu mereka tidak shalat”.
Hal ini dilakukan sebagai simbol kebersamaan, lambang persatuan umat. Juga sebagai ungkapan syukur yang bercampur gembira, lantaran mereka telah ber-idul fitri (kembali kepada kesucian (fitrah).

Namun di sisi lain perasaan haru dan sedih juga dialami oleh umat Islam, karena bulan Ramadhan yang amat mulia telah berlalu.

Jika kita berkaca pada sejarah, banyak peristiwa-peristiwa penting yang terukir dalam lembaran sejarah Islam yang terjadi pada Ramadhan. Peristiwa-peristiwa itu antara lain:

1). Kejayaan Rasul dan pasukannya dalam perang Badr, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah;

2). Pembebasan kota Mekah terjadi pada Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah;

3). Kemenangan umat Islam dalam perang Tabuk terjadi pada Ramadhan tahun ke-9 Hijriyah;

4). Pengiriman pasukan khusus yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib ke Yaman terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H. Setahun kemudian penduduk Yaman berbondong-bondong masuk Islam;

5). Penaklukan Afrika oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Uthbah ibn Nafi’, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-53 H;

6). Islam menapakkan kaki ke Eropa di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-91 H; dan

7). Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 juga bertepatan dengan hari jumat, 9 Ramadan 1364 hijriah.

Keseluruhan peristiwa sejarah itu mengambarkan kepada kita, umat Islam ini selalu terkait dan terikat satu sama lainnya. Melewati sekat-sekat kesukuan, etnis, ras, bangsa, hingga warna kulit. Kesamaan dan kebersamaan dalam ukhuwah Islamiyah.

Sebagaimana ketika Negara Republik Indonesia mendeklarasikan hari kemerdekaannya, maka negara-negara yang mayoritas beragama Islamlah yang pertama kali mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia.

الله ُاَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Terkait ukhuwah Islamiyah ini, bahkan dengan jelas Rasulullah SAW dalam khutbahnya menekankan:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِسْمَعُوْا قَوْلِيْ وَاعْقِلُوْهُ، تَعْلَمُنَّ أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ أَخٌ لِلْمُسْلِمِ، وَأَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ إِخْوَةٌ، فَلاَ يُحِلُّ لاِمْرِىءٍ مِنْ أَخِيْهِ إِلاَّ مَا أَعْطَاهُ عَنْ طِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ، فَلاَ تُظْلَمُنَّ أَنْفُسَكُمْ

Ayyuhan-nas, isma’u qouli wa’qiluhu, ta’la-munna anna kulla muslimin akhun li-muslim, wa annal-muslimina ikhwatun. Fala yuhilla limri-in min akhi-hi illa ma ‘athahu ‘an thibin nafsin minhu, falaa tudzlamunna anfusakum

Wahai manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semuanya bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.

Peristiwa pemutusan diplomatik atas Negara Qatar beberapa waktu lalu oleh beberapa Negara Timur Tengah menjadi batu ujian bagi kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah ini.

Pemutusan hubungan diplomatik yang dipelopori oleh Saudi ini sangat disayangkan. Oleh karena, sosok Raja Salman sejak awal kemunculannya banyak menerbitkan harapan perubahan dan perbaikan bagi kepemimpinan Saudi di kawasan bahkan dunia. Citra Saudi di era Raja Salman sudah demikian positif ditilik dari upaya beliau secara bilateral, misalnya kunjungan bersejarah ke beberapa negara Asia, hingga ragam agenda multilateral menggalang aliansi negara-negara Arab dan mayoritas Muslim.

Harapan kebersamaan dalam perjuangan isu kemerdekaan, perdamaian, dan kemanusiaan, semisal Kemerdekaan bangsa Palestina juga akan jauh melemah. Padahal sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Indonesia mempunyai amanah agar turut serta dalam menghapus penjajahan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Respon Negara Indonesia sendiri, Indonesia harus menjaga netralitas, menjalani prinsip ‘bebas dan aktif’ dalam kebijakan luar negeri. Indonesia sebagai Negara yang mayoritas adalah muslim ini harus senantiasa mendorong kepada persatuan, utamanya persatuaan dan kebersamaan Negara-negara muslim lainnya.

Maka pelajaran yang dapat kita ambil adalah, Untuk dapat mengukuhkan rasa persaudaraan kita dan semakin memperkuatnya, salah satu upaya yang sangat efektif adalah melaksanakan silaturahim, yaitu menyambung rasa kasih sayang antar kita. Mari kita ingat sabda Rasulullah saw, “Bukanlah bersilaturahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambung apa yang putus” (HR. Bukhari).

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa kita didorong untuk aktif dalam membangun silaturahim dan bahu membahu menjaga ukhuwah Islamiyah yang nilainya tiada bandingnya ini. Dimulai dari keluarga, kerabat, masyarakat, bangsa, dan negara.

Demikianlah khutbah Idul Fitri kita hari ini, semoga dapat kita mampu menjadikan Idul fitri 1438 hijriyah ini sebagai momentum untuk kebangkitan kembali ukhuwah Islamiyah. Taqoballah minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. Minal ‘aidzina wal faizin. Selamat merayakan Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.

باَرَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ وَنَفَعَنِيْ وَاِياَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Barakalla li wa lakum, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa dzikril hakiem wa taqobala minni wa minkum tilawatahu innahu huwas-samiul bashir

KHUTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَر٩x لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ. الحَمْدُللهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَه وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَحَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَه. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنبَيَّ بَعْدَه.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِباَدَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَارْحَمْهُمْ كَمَارَبَّوْنَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allahu akbar (9x)
Lailaha illa-Allah wallohu akbar, Allohu akbar wa li-llahil-hamd. Alhamdulillahi wahdah, shodaqo wa’dah wa nashoro ‘abdah, wa ‘azza jundahu wa hazamal-ahzaba wahdah.
Asyhadu alla ilaha illa-Allahu wahdahu laa syarikalah
wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluhu, laa nabiyya ba’dah.

Allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala Muhammadin, wa ‘ala aalihi wa ashabhi ajmain.
Amma ba’du. Fayaa ibadallahi ushikum wa nafsi bittaqwa-llahi faqod fazal-muttaqun. Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alan-nabiy. Ya ayyuhal ladzina amanu shollu ‘alaihi wa sallimu tasliima.

Allahumma sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammadin kama sholaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim, wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad, kama baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim fil ‘alamin innaka hamidum-majid.
Allahumagfir dzunubana wa liwalidina, warhamhum kama rabbauna shigoro. Wa li jami-il muslimina wal muslimat, wal mu’mininan wal mu’minat, al-ahya minhum wal amwat. Birohmatika ya arhamar-rohimiin.

Ya Allah, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya. Engkau pencipta dan pelindungnya

Ya Allah, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami. Tunjuki kami jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian

Ya Allah, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami.

اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.
رَبَّناَ آتِناَ فِىالدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Allahuma arinal haqqo haqqo war-zuqna ittiba’ah, wa arinal bathila bathila war-zuqna ijtinabah.
Robbana aatina fid-dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, waqina adzaban-nar, wa sholallohu ‘ala sayyindina Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ‘ajmain,
Walhamdu-lillahi robbil ‘alamin.

PPDB Online Kisruh, Ini Tanggapan Anggota DPR

PPDB Online Kisruh, Ini Tanggapan Anggota DPR

SahabatKharis.com – Ketua Komisi 1 DPR RI Abdul Kharis Almasyhari memandang persoalan banyaknya kekisruhan dalam pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)online di Jawa Tengah adalah karena batasan kuota siswa Gakin tidak didasarkan pada kuota anggaran. Hal itu dikatakan Abdul Kharis saat menemui sejumlah wartawan di Solo, beberapa waktu lalu.

“Seharusnya kita memberikan afirmasi kepada Gakin, tidak berdasarkan pada jumlahnya. Melainkan pada besaran anggaran (yang dimiliki pemerintah) untuk Gakin. Kalau hanya sekadar batasan jumlah, apalagi jumlah minimal, maka tidak salah jika sekolah menerima 100 persen Gakin,” kata Abdul Kharis Almasyhari.

Pemerintah seharusnya melihat bahwa kuota Gakin yang bisa masuk ke sekolah harus disesuaikan dengan jumlah anggarannya. Sebab jika tidak, maka akan banyak orang yang mengaku Gakin, hanya untuk bisa lolos pada seleksi PPDB.

“Seharusnya bisa dilihat, anggarannya berapa, yang mau diafirmasi berapa. Sebab jika tidak, orang akan berbondong-bondong mencari surat keterangan miskin agar bisa diterima. Padahal permasalahan Gakin ini bukan permasalahan diterima atau tidak, melainkan ketidakmampuan bayar dari Gakin.” imbuhnya.

Dirinya juga memandang bahwa kuota ini menjadi persaingan yang tidak sehat dalam mendapatkan tempat duduk di sekokah. Sebab, hanya dengan selembar surat Gakin, sudah bisa menganulir prestasi-prestasi yang dimiliki siswa lain.

Dikatakan, seharusnya pihak penyelenggara PPDB juga mempertimbangkan dua faktor lainnya, yakni kemampuan bayar siswa, dan prestasi akademik.

“Dan jika seperti itu justru malah terbalik dengan tujuan bangsa, anak-anak yang sudah dicerdaskan malah tergusur dengan orang-orang yang mengaku miskin,” katanya.

Abdul Kharis mengapresiasi siswa dari keluarga miskin (Gakin) untuk bisa bersekolah. Namun ada sistem yang harus dibenahi dalam penerimaan siswa (PPDB) kali ini.

“Saya sangat membela dan mendorong siswa Gakin untuk bisa sekolah, tetapi sistemnya yang harus dibenahi. Sekali lagi pemerintah seharusnya mengafirmasi kemampuan bayar Gakin dengan jumah anggaran yang disediakan.” tegasnya. [ Timlo.net]

Dirugikan PPDB, Abdul Kharis : Silahkan Gugat

Dirugikan PPDB, Abdul Kharis : Silahkan Gugat

SahabatKharis.com – Ketua Komisi 1 DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mendorong pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2017 Jawa Tengah untuk melakukan gugatan. Hal itu dikatakannya saat menemui sejumlah wartawan di Kota Bengawan, beberapa waktu lalu.

“Kepada masyarakat yang merasa dirugikan oleh penyelenggara negara bisa melakukan gugatan,” singkatnya.

Ditambahkan juga peraturan gubernur yang mengatur tentang PPDB online bisa dikritisi. Namun jika memang peraturan tersebut masih berlaku dan ternyata merugikan banyak orang, Abdul Kharis mendorong masyarakat untuk mengguggat.

“Sekolah ini kan hanya institusi pendidikan yang menyelenggarakan berdasarkan peraturan dari gubernur kan, dan jika banyak yang dirugikan, ya silakan (digugat),” katanya.

Dia juga menyoroti adanya permasalahan manipulasi surat keterangan miskin. Dirinya mengapresiasi siswa dari gakin untuk bisa bersekolah. Namun ada sistem yang harus dibenahi dalam penerimaan siswa kali ini.

Dia berpendapat bahwa persoalan banyaknya kekisruhan dalam pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)online di Jawa Tengah adalah karena batasan kuota gakin tidak didasarkan pada kuota anggaran.

“Seharusnya kita memberikan afirmasi kepada gakin, tidak berdasarkan pada jumlahnya. Melainkan pada besaran anggaran (yang dimiliki pemerintah) untuk Gakin. Kalau hanya sekadar batasan jumlah, apalagi jumlah minimal, maka tidak salah jika sekolah menerima 100 persen gakin. Tetapi seharusnya penekanannya lebih pada kemampuan bayar, bukan pada kuota siswa.” kata dia. [ timlo.net]

Duterte Minta Bantuan TNI, Abdul Kharis: Masih Dibahas Kemenlu

Duterte Minta Bantuan TNI, Abdul Kharis: Masih Dibahas Kemenlu

SahabatKharis.comPermintaan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte meminta bantuan kepada TNI untuk menyelesaikan konflik di Kota Merawi, Filipina saat ini sedang dibahas. Kementerian luar negeri Indonesia sedang menjajaki kerjasama dengan pihak negara Filipina untuk menerjunkan TNI di kawasan konflik yang telah terjadi beberapa pekan terakhir.

“Saat ini sedang dibahas oleh Menteri Luar Negeri. Tidak menutup kemungkinan, tentara kita dapat diterjunkan ke Merawi,” terang Ketua Komisi I DPR-RI, Abdul Kharis Almasyahari, Minggu (18/6).

Menurutnya, permintaan Duterte meminta bantuan terhadap TNI ketimbang mendatangkan tentara Amerika Serikat (AS) sebuah kebanggaan tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Kekuatan dan kemampuan TNI telah diakui di berbagai dunia dengan memenangkan sejumlah kejuaraan militer tingkat dunia atau sederet misi perdamaian yang telah diemban. Maka dari itu, ini merupakan kesempatan emas untuk menerjunkan TNI di wilayah tersebut.

“Apalagi Indonesia juga memiliki kepentingan untuk memberantas teroris yang mendekati negara dan mengancam kedaulatan bangsa. Maka menumpas kelompok radikal yang telah berbaiat terhadap ISIS di Filipina perlu melibatkan TNI,” terang Politisi PKS tersebut.

Disisi lain, pria asal Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan ini mengaku, dengan diperbantukannya TNI menumpas kelompok radikal juga memberi kesempatan mereka untuk mengasah kemampuan di lapangan. Terlebih, kesempatan nyata untuk melakukan perang sesungguhnya jarang didapatkan.

“Tentu saja, ini kesempatan langka. Dapat untuk mengasah kemampuan tentara kita agar memiliki skill di atas rata-rata,” katanya. [Timlo.net]

 

Indonesia Akan Berperan Aktif Damaikan Qatar-Arab

Indonesia Akan Berperan Aktif Damaikan Qatar-Arab

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, berharap ketegangan antara sejumlah negara Arab dan Qatar dapat segera selesai. Karena, kedua pihak adalah negara-negara sahabat Indonesia.

“Sikap Pemerintah Indonesia tidak memihak kepada salah satu pihak, tapi akan berperan aktif untuk mendamaikan kedua pihak melalui forum dialog,” kata Abdul Kharis Almasyhari, seperti dikutip dari Antara, Rabu (14/6).

Negara-negara Arab yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar yakni Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yaman, dan Maladewa. Menurut Abdul Kharis, ketegangan antara sejumlah negara Arab dan Qatar telah menyedot perhatian publik Indonesia selama sepekan terakhir, karena cukup banyak warga negara Indonesia (WNI) bermukim dan bekerja di Qatar.

“Lalu lintas udara di Qatar juga sudah menjadi salah satu rute jamaah haji dan umrah dari Indonesia menuju ke Arab Saudi melalui Qatar,” katanya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyatakan, dirinya sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, mendiskusikan soal ketegangan negara-negara Arab dan Qatar, sekaligus mencocokkan data-data.

Kharis mendukung penuh sikap Kementerian Luar Negeri RI untuk mendorong sejumlah negara Arab yang memutuskan hubungan dengan Qatar untuk menggunakan dialog dan rekonsiliasi dalam penyelesaian masalah demi menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

“Sesuai komitmen politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, sikap Pemerintah Indonesia akan aktif mendorong penyelesaian masalah melalui forum dialog dan rekonsiliasi,” katanya.

”Karena, semua negara-negara yang menghadapi ketegangan tersebut adalah sahabat Indonesia.”Ungkapnya.

Kharis menjelaskan, Indonesia memiliki hubungan baik dengan Qatar serta memiliki kerja sama perdagangan dan investasi. Indonesia juga memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi serta mengirimkan jamaah haji terbesar.

Sumber : Republika

Ketua Komisi I DPR RI Ajak Wartawan Buka Puasa Bersama

Ketua Komisi I DPR RI Ajak Wartawan Buka Puasa Bersama

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari dan para wartawan buka puasa bersama (bukber) di Restoran Pulang Oca, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (12/6/2017).

Ketua Komisi I Abdul Kharis Almasyhari buka bersama wartawan

Ketua Komisi I Abdul Kharis Almasyhari buka bersama wartawan

Dalam sambutannya menjelang berbuka puasa, Kharis mengatakan acara buka puasa ini untuk mempererat tali silaturahmi.

Dalam kesempatan itu Kharis juga menyinggung tentang krisis Qatar. Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk aktif meredakan gejolak masalah Qatar.

Komisi I Akan Bahas Anggaran BSSN Dengan Kementerian Terkait

Komisi I Akan Bahas Anggaran BSSN Dengan Kementerian Terkait

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR Abdulkharis Almasyhari menjelasakan, pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bedasarkan Peraturan Presiden (Pelpres) nomor 53/2017 saat ini berada pada tahap pembentukan struktur sumber daya manusian (SDM), namun dalam pagu anggaran 2018 yang sedang dibahas Komisi I belum ada mengenai BSSN.

“Di Komisi I, pembahasan pagu aggaran 2018 belum ada penganggaran untuk BSSN, adanya untuk Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Memang pada dasarnya BSSN merupakan peleburan dari Lemsaneg dan Direktorat keamannan Kominfo,” kata Kharis sapaan akrabnya disela-sela rapat kerja dengan Kominfo di Gedung Nusantra I, DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (08/06).

Oleh karenanya, lanjut politisi F-PKS itu, untuk menggabungkan mata anggaran dengan nomenklatur baru tersebut, pihaknya akan memanggil Kementerian terkait seperti Kementerian Keuangan, Kominfo, Lemsaneg, agar BSSN bisa segera efektif menjalankan tugasnya.

“Saya berharap BSSN menjadi badan yang handal dan mampu mengkoordinir semua lembaga yang memiliki security siber agar kemampuan badan ini nantinya lebih efektif dalam menangkal kejahatan siber dan melindungi masyarkat Indoneisa dari siber crime,”ungkapnya seraya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan aware (kesadaran) dalam bermedia sosial.

Pasalnya, Kharis masih melihat bahwa masyarakat hanya sekedar happy dalam menikmati fasilitas internet maupun media sosial tanpa memikirkan dampaknya.

“Kesadaran untuk menggukan internet ke hal yang positif masih belum banyak, mungkin  tanpa sadar hanya sekedar happy namun malah melanggar UU ITE. Karena itu kita berharap sosialisasi dari  pemerintah tentang UU ITE ini harus semakin masif dan gencar agar masyarakat tumbuh kesadaran tidak melakukan pelanggaran,” pungkasnya.

Kenangan Ramadhan : Lari Saat Dengar Adzan Magrib, Dapat Hadiah Jika Khatam Qur’an

Kenangan Ramadhan : Lari Saat Dengar Adzan Magrib, Dapat Hadiah Jika Khatam Qur’an

SahabatKharis.com – Tiap Ramadhan datang, Abdul Kharis Almasyhari kembali terkenang masa kecilnya di lingkungan pondok pesantren (ponpes). Ada yang selalu dinantinya kala itu, jaburan setelah tadarusan dan hadiah sarung ketika bisa khatam lebih dari satu kali selama Ramadhan.

Bagi Abdul Kharis. Lingkungan ponpes adalah bagian dari dirinya yang tak bisa dilepaskan. Ya, sang ayah K.H. Syaibani merupakan pemilik Ponpes Muftahul Jannah Pituruh, Purworejo yang belakangan telah berganti nama menjadi Ponpes Mahir Arriyadh.

Jika Ramadhan seperti ini, ia terkenang akan masa kecilnya yang melakukan puasa di lingkungan pondok. Mulai dari sahur, Sholat lima waktu, hingga ngaji dilakukan bersama-sama. Selama Ramadhan, ponpes milik ayahnya memang diliburkan. Namun ada sejumlah santri yang memilih untuk tidak puang dan berpuasa di pondok.

Dengar adzan magrib langsung lomba lari

Bersama para santri itulah, Abdul Kharis kecil mengisi bulan puasa dengan kegiatan agama.

“Biasanya kalau ngaji setelah shalat ashar ada waktu istirahat sekitar setengah jam. Saya dan kawan-kawan sering berjalan-jalan ke sawah. Memasuki adzan maghrib, kami berlari-lari kembali ke pesantren. Kenangan lari-lari ini yang masih terkesan sampai sekarang,” ujar Abdul Kharis.

Kenangan lain adalah saat tadarusan usai sholat tarawih. Saat tadarusan ini biasanya juga disajikan snack atau makanan ringan sebagai pelepas lelah setelah mengaji.

Snack ini namanya jaburan. Kalau ngaji, yang oaling saya nantikan ya jaburan-nya ini,” tutur pria 49 tahun ini sambil terkekeh.

bersambung ke halaman 2

Masalah Qatar, Kemenlu Diminta Pastikan Jamaah Umrah tak Terganggu

Masalah Qatar, Kemenlu Diminta Pastikan Jamaah Umrah tak Terganggu

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari mengatakan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) harus mengambil langkah antisipasi terhadap nasib warga negara Indonesia di Qatar. Sebab, banyak WNI yang berada di sana. Termasuk juga terkait keberangkatan jamaah umrah yang banyak menggunakan maskapai Qatar Airways.

“Karena ketujuh negara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar menutup akses ke negara teluk tersebut. Ketujuh negara tersebut juga akan menangguhkan perjalanan udara dan laut dari dan ke Qatar,” kata Kharis, Selasa (6/6).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan antisipasi juga harus dilakukan jika ketegangan berlangsung dalam waktu yang panjang. Karenanya, Kharis meminta kepastian supaya para jemaah tetap bisa melaksanakan ibadah di Tanah Suci.

“Mohon Kementerian Luar Negeri juga mengantisipasi nasib WNI di Qatar apabila ketegangan berlangsung dengan waktu yang panjang. Terkait jemaah umrah yang berangkat dengan Qatar Airways jangan sampai tidak bisa beribadah di tanah suci,” kata Kharis.

Sebelumnya diberitakan Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, Yaman, Libya dan Maladewa memutus hubungan diplomatik dengan Qatar menyusul ketegangan diplomatik di kawasan timur tengah tersebut.

Pemutusan hubungan diplomatik itu disebabkan hubungan Qatar dengan Iran dan dukungan kedua negara itu terhadap kelompok-kelompok teroris yang dianggap bertujuan untuk mengacaukan wilayah teluk. Arab Saudi menuduh Qatar mendukung kelompok teroris yang didukung Iran, seperti kelompok Ikhwanul Muslimin, Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan Alqaeda.

Sumber : JPNN

 

Diberi Kewenangan Lebih, KPI Bakal Lebih ‘Bergigi’

Diberi Kewenangan Lebih, KPI Bakal Lebih ‘Bergigi’

SahabatKharis.com – Dalam Rancangan Undang Undang Penyiaran yang baru, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan diberi kewenangan untuk memberikan rekomendasi pencabutan izin siaran bagi media televisi yang melakukan pelanggaran.

“Keputusan pencabutan tetap ditangan eksekutif dan lembaga hukum, KPI memberikan rekomendasi,” jelas Ketua Komisi I DPR RI, Dr Abdul Kharis Almasyhari di Univeritas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (6/6).

Kewenangan KPI itu perlu diberikan. Sementara saat ini hanya ‘ditugasi’ mencatat berapa kali pelanggaran dilakukan. Menurut Abdul Kharis hal penting yang harus dijaga dan diawasi adalah menyangkut kontens siaran. Kontens itulah yang menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia.

“Jadi harus diawasi dan KPI harus mempertanggungjawankan,” tandasnya.

Abdul Kharis menyampaikan hal di atas dalam Seminar Nasional Bersama dalam Kebhinekaan yang digelar dalam rangkaian Pekan Tilawatil Quran (PTQ) tingkat nasional yang diprakarsai Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI). Kegiatan digelar bersama UMS dengan menampilan sejumlah narasumber.

Selain Abdul Kharis, Henry Subiakto, staf ahli Menteri Keminfo, kemudian Sutrimo (Dirjen Potensi Pertahanan Kementerjan Pertahanan RI), Rektor UMS Dr Sofyan Anif dan Rektor IAIN Surakarta Dr Mudhofir Abdullah. Kontens siaran menjadi kunci penentu untuk membangun kebhinekaan bangsa Indonesia.

Dalam forum itu banyak didiskusikan terkait pentingnya penguatan rasa kebhinekaan, sementara tidak sedikit pihak yang merongrong dengan menyebarkan informasi melalui media sosial. Penyebaran informasi menjadi salah satu strategi dalam perang baru untuk menghancurkan bangsa ini.

Sumber : Kedaulatan Rakyat