Victory for Palestine as Al-Aqsa reopened

Victory for Palestine as Al-Aqsa reopened

SahabatKharis.com – Israel imposed restrictions nearly two weeks ago after three Palestinians, citizens of Israel, shot dead two Israeli police officers outside the Al-Aqsa Mosque compound on July 14.

The Palestinians responsible for the attack were killed during an early-morning shootout in one of Jerusalems most holy and sensitive sites.

The compound was closed for two days and reopened with the addition of newly installed metal detectors. Surveillance cameras were also eventually installed at the gates of the holy site.

Palestinians vowed to protest and prayed on the streets surrounding the mosque compound to voice their objection to the installation of metal detectors.

Tensions between Palestinians and Israelis over the Al-Aqsa Mosque compound have prompted the international community to call for calm and a restoration of the status quo, which gives Muslims religious control over the compound.

Indonesia, Jordan, Turkey, Lebanon, the US, Saudi Arabia, Egypt, and others expressed protest over Israeli-led restriction on Palestinians at the holy site.

Israel, after facing international condemnation, removed all detectors on Friday, July 28.

Several Muslims from around the world joined the celebrations around Al-Aqsa and greeted each other.

On Saturday (July 29), thousands of Palestinians took to the streets and went into the Al-Aqsa Mosque after Israel lifted its restrictions on Muslim worshipers entering the mosque.

Following this, the Indonesian Association of Muslim Intellectuals (ICMI) called on world leaders to soon reach a decision on safeguarding Palestinians.

The ICMI views Israels actions as a measure to intimidate Palestinians.

ICMI Chairman Jimly Asshiddiqie stated that the problem should be addressed as a crucial issue not only of Muslims but also of the entire humanity.

“The Baitul Maqdis (Al Aqsa) is the legacy of the ancestors of three religions — Islam, Christianity, and Judaism — that should be safeguarded in the fight against the barbarity of the Israeli government,” Asshiddiqie noted.

Al-Aqsa is mentioned in the Quran and is believed to have been the place towards which Muslims directed their prayers before it was replaced by Mecca.

It also features in one of Islams most important miracles: the Isra and Miraj, or the miraculous night journey of the Prophet Muhammad.

According to the Quran, Muhammad traveled from Mecca to Al-Aqsa in Jerusalem in one night before ascending to heaven.

The mosque, which is architecturally important and revered as a treasure of Islamic design, is also a defining symbol for Palestinians and the residents of Jerusalem.

With regard to the stance of the government of Indonesia, Asshiddiqie remarked that the ICMI hoped to be more aggressive and take an initiative to resolve the long-standing conflict between Israel and Palestine.

“I think we can work together with other countries, such as Turkey or Egypt, to take the initiative to mobilize global solidarity to solve the Palestinian problem,” he explained.

Asshiddiqie said a coalition of world leaders can be formed, driven by Indonesia, the US, and countries from the Middle East and Europe, to resolve conflicts and immediately grant independence to the Palestinians.

“The US, as a predominantly Protestant Christian country, and Indonesia, as a Muslim majority nation, as well as other countries, in Europe, America, and the Middle East, can build an Abrahamic Coalition to solve the problems of Israel and the Palestinians,” Asshiddiqie revealed.

He stated that humanitarian problems in the world, especially relations between Islam and the West, such as the Israeli-Palestinian conflict, could be resolved if world leaders, including US President Donald Trump, act neutral.

Commission I Chairman Abdul Kharis Almasyhari said that the Organization of Islamic Cooperation should urge the UN to completely end Israeli aggression against the sanctity of Al-Aqsa Mosque.

“The government of Indonesia should urge the UN Security Council to adopt a resolution to save the Al-Aqsa Mosque compound,” he emphasized.

The UNESCO World Heritage Committee stated that the Al-Aqsa Mosque is an Islamic place of worship and an international cultural heritage site, he pointed out.

Hence, Israels actions at the Al-Aqsa Mosque should be stopped.

Support from Indonesian people. (ANTARA/ Novrian Arbi)

Support from Indonesian people. (ANTARA/ Novrian Arbi)

Palestinian Independence

The Indonesian government will always support Palestines struggle for independence despite foreign pressure calling for Indonesia not to side with Palestine, Vice President Jusuf Kalla remarked.

“Indonesia will always side with Palestine,” Kalla said.

Although support for Palestines struggle for independence has poured in, the Palestinian people must stay united to fight against the Israeli aggression, he stated.

He noted that the longstanding conflict between Hamas and Fatah will make it difficult for Palestine to gain independence.

“We continue to support their (struggle for) independence, provided that the rivalry between the two conflicting camps must be settled, and they must be united,” he remarked.

The long-drawn conflict between Hamas and Fatah has led to a civil war in Palestine. As a result of the conflict, the Palestinian territory has de facto been divided into the Gaza Strip, controlled by Hamas, and the West Bank under the control of Fatah.

However, the recent Israeli attack, which targeted civilian settlements and the Al-Aqsa Mosque, has worsened Palestines struggle for independence. (Antara)

DPR Desak PBB Susun Resolusi Selamatkan Al-Aqsa

DPR Desak PBB Susun Resolusi Selamatkan Al-Aqsa

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengecam keras segala upaya yang dilakukan Israel terhadap situs Masjid Al-Aqsa, Palestina. Apalagi, masjid ini merupakan situs yang dilindungi PBB dan milik umat Islam dunia. Ia meminta Pemerintah RI mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) aklamasi menyusun resolusi untuk menyelamatkan Al-Aqsa termasuk melindunginya.

“Kali ini dibutuhkan resolusi yang dapat dieksekusi, bukan resolusi yang lemah dan seperti sebelum-sebelumnya yang dapat begitu saja tidak dihormati Israel,” tegas Kharis, disela-sela menerima elemen Aliansi Pemuda Islam (API) di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/7/2017). Dalam kesempatan itu, Kharis didampingi Wakil Ketua Komisi I DPR Asril Hamzah Tanjung.

Selain itu, politisi F-PKS itu meminta Pemerintah RI dapat mendesak OKI untuk menggelar sidang istimewa, untuk bersatu menyelamatkan Masjid Al-Aqsa dari aksi teroris Israel. Serta menghapus sepenuhnya praktik penjagaan berlebihan di komplek Al-Aqsa, seperti detektor logam, cctv dan penjagaan tentara Israel yang disertai perilaku represif.

“Adakalanya harus diplomasi. Namun memasuki musim dingin mendatang sekiranya kita juga harus terus mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” himbau Kharis kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Kharis menjelaskan praktek Israel sejak 14 Juli 2017 sebagai kebiadaban kesekian kalinya. Apalagi dengan Israel yang melarang sholat Jum’at di masjid Al-Aqsa untuk pertama kalinya sejak setengah abad tentara Yahudi menguasai masjid Al Aqsa tahun1967. Masjid Al -Aqsa sebagai masjid suci Umat Islam dan warisan budaya internasional berdasarkan resolusi UNESCO, seharusnya dilindungi dari teror radikal zionis Israel.

“Status sebagai warisan budaya internasional maka Al-Aqsa dan Al-Baldah Al Qodimah (kota lama) tidak layak ditetapkan sebagai kawasan militer. Apalagi tempat penganiayaan penjaga masjid, perampasan telpon, dan pengusiran jama’ah sholat dari Al-Aqsha. Kawasan ini berhak untuk selalu terbuka, tidak ditutup pintu-pintu masjidnya,” pesan politisi asal dapil Jateng itu. (dpr.go.id)

DPR Minta Pemerintah Terus Berdiplomasi Selesaikan Konflik Israel-Palestina

DPR Minta Pemerintah Terus Berdiplomasi Selesaikan Konflik Israel-Palestina

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menilai langkah yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri sudah tepat dalam menyikapi adanya konflik antara Palestina dan Israel. Terutama peristiwa akhir-akhir ini yakni pemasangan metal detector oleh pihak keamanan negara zionis itu di pintu masuk Masjid Al Aqsa yang menyebabkan sulitnya umat Muslim untuk beribadah di sana.

Menurut Abdul Kharis, tak hanya mengecam, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi juga aktif berkomunikasi dengan Menlu Yordania sebagai pengampu Masjid AlAqsa, Menlu Turki dan Menlu Amerika Serikat sebagai negara sahabat yang punya hubungan diplomatik dengan Israel agar menekan dan menyampaikan protes keras kepada Israel.

Kepada Menlu Palestina dan Sekjen OKI juga bahwa Indonesia mengutuk keras dan mengecam semua langkah kekerasan dan pembunuhan terhadap warga Palestina dan AlAqsa” ungkap Abdul Kharis , Jumat (28/7/2017).

Sikap aktif Indonesia, menurut Kharis tak hanya sekedar kecaman namun selalu membawa persoalan Kemerdekaan Palestina dalam misi diplomatik dan selalu mendorong negara sahabat untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Hal ini, lanjut politikus Partai Keadilan Sejahtera itu sejalan dengan Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan dan menegaskan bahwa Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan diatas dunia harus dihapuskan.

“Karena itu soal Palestina bukan sekedar isu agama, tapi Indonesia melihatnya sebagai isu kemerdekaan, kemerdekaan Palestina,” jelas Kharis.

Sebelumnya, selama hampir dua pekan terakhir umat Islam Palestina diimbau untuk tidak memasuki kompleks Masjid Al Aqsa karena langkah Israel menempatkan detektor logam. Muslim Palestina akhirnya melakukan protes dengan menunaikan salat di depan pintu masuk yang dijaga ketat.

Namun, Israel akhirnya sudah mencabut pagar serta kamera pengawas dari kompleks Masjid Al Aqsa, Yerusalem. Langkah tersebut disambut dengan imbauan dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas agar umat Islam kembali memenuhi Haram al Sharif untuk menunaikan ibadah salat.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin sampai kehabisan kata-kata dalam mengecam tindakan tentara Israeal yang melarang muslim Palestina untuk menjalakan ibadah di masjid Al Aqsa.

“Sudah habis kata-kata untuk mengecam, mengutuk atau yang lainnya atas tindakan tentara zionis Israel karena sudah menyentuh lambang suci umat Islam,” katanya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis 27 Juli 2017 kemarin.

Sumber : Okezone

Komisi I DPR Dukung Langkah Kemenlu RI Kembalikan Status Quo Al-Aqsa

Komisi I DPR Dukung Langkah Kemenlu RI Kembalikan Status Quo Al-Aqsa

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mendukung penuh dan mengapresiasi  langkah yang diambil Kementerian Luar Negeri RI yang megecam keras segala upaya yang dilakukan Israel terhadap situs Masjid Al-Aqsa dan juga segala daya upaya diplomasi Menteri Luar Negeri hingga hari ini dan kedepannya.

Dikabarkan, Menlu Retno Marsudi sudah berkomunikasi dengan Menlu Yordania sebagai pengampu Masjid Al-Aqsa, Menlu Turki dan Amerika Serikat sebagai negara sahabat yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel agar menekan dan menyampaikan protes keras Indonesia kepada Israel serta Menlu Palestina dan Sekjen OKI.

“Indonesia mengutuk keras dan mengecam semua langkah kekerasan dan pembunuhan terhadap  warga Palestina dan Al-Aqsa,” tegas Kharis dalam pesan singkatnya kepada Parlementaria, Rabu (26/7/2017).

Politisi F-PKS itu juga mengamini dan mendukung segala sikap kementerian Luar Negeri RI terhadap Palestina. Apalagi dalam setiap kesempatan rapat kerja dengan Komisi I DPR, Menlu RI selalu menekankan akan membawa upaya kemerdekaan Palestina dalam misi diplomatik Kemenlu dan setiap kesempatan pertemuan dengan negara sahabat.

“Dalam Pembukaan UUD 45 jelas sekali amanat Konstitusi kita menyatakan dan menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena itu soal Palestina bukan sekedar isu agama, tapi Indonesia melihatnya sebagai isu kemerdekaan, yakni kemerdekaan Palestina,” papar Kharis.

Kharis juga mengapresiasi langkah Wakil Tetap/Dubes RI untuk PBB Dian Triansjah Djani yang melobi Dewan Keamanan PBB guna membahas tindakan Israel yang sewenang-wenang menutup Masjid Al-Aqsa yang melanggar HAM dan kebebasan beragama.

Kendati saat ini Israel sudah mencabut metal detector di Kompleks Masjid Al-Aqsa, tetapi masih memasang CCTV dan belum menyatakan mencabut pembatasan ibadah. Sleian itu, tidak ada jaminan Israel tidak akan mengulangi kejahatannya terhadap umat di Masjid Al- Aqsa.

“Oleh karena itu, langkah Israel yang berupaya mengontrol Masjid Al-Aqsa dengan kekerasan dan upaya licik lainnya seperti pemasangan CCTV dengan dalih yang dibuat-buat adalah langkah yang tidak dibenarkan,” tegas.

Menurutnya, perlu ada langkah perlindungan internasional terhadap Masjid Al-Aqsa agar kembali sebelum kejadian 14 Juni terulang dibawah pengelolaan Pemerintah Yordania dan Palestina. Semua upaya Israel terhadap Al-Aqsa harus di bongkar dan di hancurkan.

“Sikap politik luar negeri kita soal Palestina sudah dijelaskan oleh Menlu Retno. Jelas dan jernih sekali, Palestina ada di jantungnya politik luar negeri Indonesia dan disetiap helaan napas politik luar negeri Indonesia, disitu ada Palestina,” tutup politisi asal dapil Jateng itu.

Seperti diberitakan beberapa media sebelumnya, dalam pernyataan yang dikeluarkan usai rapat Kabinet Israel, diputuskan bahwa mereka akan bertindak sesuai rekomendasi badan-badan keamanan untuk mengganti metal detector dengan alat-alat “pemeriksaan cerdas” yang tidak begitu menonjol. Disebutkan Kabinet bahwa pemerintah telah mengalokasikan 100 juta shekel (sekitar US$ 28 juta) untuk peralatan tersebut dan untuk tambahan aparat polisi. (DPR.go.id)

Abdul Kharis: Kemenlu Harus Berani Protes Ke PBB Soal Masjid Al-Aqsa

Abdul Kharis: Kemenlu Harus Berani Protes Ke PBB Soal Masjid Al-Aqsa

SahabatKharis.com – UNESCO atau badan pendidikan dan kebudayaan PBB telah mengeluarkan pernyataan resmi tahun lalu yang menegaskan Masjid Al-Aqsa adalah situs suci milik umat Islam.

Namun, polisi Israel masih bersikeras menutup masjid tersebut dan melarang warga Muslim Palestina salat Jumat di sana.

“Termasuk yang baru-baru ini menggeledah jamaah salat,  memasang metal detector dan terjadi bentrokan berdarah dengan jamaah masjid yang akan berziarah dan salat,” jelas Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari dalam rilisnya kepada Parlementaria, Selasa (18/7/2017).

Politisi F-PKS itu juga meminta agar Kementerian Luar Negeri RI mengajukan protes pada PBB terkait langkah Israel tersebut.

“Kalau perlu, PBB kirim pasukan perdamaian ke sana karena resolusi PBB itu memungkinkan agar tidak muncul kembali upaya zionis mengganggu Masjid Al Aqsa,” tegas politisi asal dapil Jawa Tengah itu.

Kharis menilai, akibat dari penutupan masjid itu, umat Muslim jadi makin sulit untuk beribadah dan berziarah di tempat Nabi Muhammad SAW. Apalagi, tegas Kharis, umat Islam diwajibkan salat Jumat dan  salat lima waktu sehari.

“Persoalan Masjid Al-Aqsa akan terus berlarut-larut selama penjajah zionis Israel terus menguasai setiap jengkal tanah Palestina. Dalam Pembukaan UUD 45 jelas sekali amanat Konstitusi kita menyatakan dan menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Ini PR besar kita  dari para pendiri bangsa untuk kemerdekaan Palestina,” tutup Kharis.

Sumber : Tribunnews

Pimpinan Komisi I DPR Kecam Penutupan Masjid Al Aqsa oleh Israel

Pimpinan Komisi I DPR Kecam Penutupan Masjid Al Aqsa oleh Israel

SahabatKharis.com – Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengecam keras segala upaya yang dilakukan Israel terhadap situs Masjid Al Aqsa yang merupakan situs yang dilindungi PBB dan milik umat Islam dunia. Polisi Israel menutup Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan melarang warga Muslim Palestina shalat Jumat di masjid itu, setelah dua polisi Israel ditembak mati oleh tiga pria bersenjata di area masjid.

Kharis menegaskan, UNESCO atau badan pendidikan dan kebudayaan PBB, telah mengeluarkan pernyataan resmi tahun lalu yang menegaskan Masjid Al Aqsa (kompleks Haram Asy-Syarif) adalah situs suci milik umat Islam. Sehingga, upaya penutupan masjid atau segala tindakan kekerasan Israel di sana tidak dibenarkan sama sekali.

“Termasuk yang baru-baru ini menutup akses ke masjid, menggeledah jamaah sholat dan  memasang metal detector dan bentrokan berdarah dengan jamaah masjid yang akan berziarah dan sholat,” tegas Kharis dalam rilisnya kepada Parlementaria, Selasa (18/7/2017).

Politisi F-PKS itu juga meminta agar Kementerian Luar Negeri RI mengajukan protes ke PBB terkait langkah Israel tersebut. Indonesia bisa mengirimkan nota protes sebagai negara anggota PBB dengan mayoritas umat Islam, dengan meminta PBB agar melindungi Masjid Al Aqsa dari penjajahan dan kesewenangan rezim zionis penjajah tersebut.

“Kalau perlu, PBB kirim pasukan perdamaian ke sana karena resolusi PBB itu memungkinkan agar tidak muncul kembali upaya zionis mengganggu Masjid Al Aqsa,” tegas politisi asal dapil Jawa Tengah itu.

Kharis menilai, akibat dari penutupan masjid itu mempersulit akses ke Masjid Al Aqsa bagi setiap muslim yang ingin beribadah dan berziarah di tempat Nabi Muhammad SAW. Apalagi, tegas Kharis, umat Islam diwajibkan sholat Jumat dan  sholat lima waktu dalam sehari, dan dianjurkan berjamaah di masjid. Jadi Israel tidak boleh menghalangi ibadah umat Islam.

“Persoalan Masjid Al Aqsa akan terus berlarut-larut selama penjajah zionis Israel terus menguasai setiap jengkal tanah Palestina. Dalam Pembukaan UUD 45 jelas sekali amanat Konstitusi kita menyatakan dan menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Ini PR besar kita  dari para pendiri bangsa untuk kemerdekaan Palestina,” tutup Kharis.

Seperti diberitakan sebelumnya, pekan lalu tiga pria Arab bersenjata melakukan serangan telah ditembak mati, tak lama setelah menembaki dua polisi Israel hingga tewas. Aksi tiga pemuda itu sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan masjid kiblat pertama umat Islam tersebut. (dpr.go.id)